Rubrik

sosok > Pendidik dari Desa


Iman Suwongso

Pendidik dari Desa

Wajah desa adalah wajah Indonesia. Maka, membangun desa adalah membangun Indonesia. Keyakinan itu dipegang oleh Iman Suwongso (49), seorang penulis sastra yang juga tokoh masyarakat di Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Iman Suwongso
Kompas/Dahlia IrawatiIman Suwongso

Berbekal keyakinan itu, Iman memilih mengabdikan hidupnya dan keluarganya untuk kepentingan desa. Lelaki lulusan Pendidikan Luar Sekolah IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) itu benar-benar menjadi pendidik bagi warga di desanya. Iman mendidik secara akademis dan nonakademis.

Pengabdian Iman dan keluarganya dimulai tahun 1998 saat mereka mengajari anak-anak buruh di desanya untuk belajar secara gratis.

Endang Sampurna, istri Iman yang seorang guru, mengajari siswa sekolah di sana mengerjakan pekerjaan rumah (dengan dibantu dua anaknya). Di kawasan pabrik tersebut, rata-rata orangtua siswa bekerja sebagai buruh. Mereka jarang punya waktu untuk mengajari anaknya mengerjakan tugas sekolah.

Tahun 2006, Iman menyulap teras rumahnya menjadi joglo untuk kegiatan anak-anak, yang kemudian berhimpun dalam Kelompok Bermain dan Belajar Pelangi. Berangkat dari kedekatan dengan anak-anak, Iman juga akrab dengan pemuda, ibu, dan bapak-bapak mereka.

Semakin lama, Joglo Pandanlandung tak hanya terbuka untuk anak-anak dan ibu-ibu. Pemuda karang taruna serta bapak-bapak pun di lain kesempatan turut rapat di sana membahas aneka hal.

Joglo akhirnya tidak hanya menjadi tempat belajar anak, tetapi juga berkembang menjadi rumah bersama banyak orang.

Dari setiap pertemuan dengan warga desa di joglo, ayah dua anak itu mendorong terwujudnya Desa Pandanlandung yang berdaya, tetapi tetap dengan nilai-nilai kedesaan. Nilai-nilai kedesaan, seperti gotong royong, swadaya, tepa selira (toleran), dan bertata krama, diyakini Iman akan mampu mengembalikan roh desa, yaitu desa sebagai pusat kebudayaan bangsa. Sekali lagi, karena sebagian besar negeri ini hidup sebagai orang desa. Tercatat ada sekitar 74.000 desa di seluruh Indonesia.

Sayangnya, menurut Iman, sejak puluhan tahun lalu, arti desa dikerdilkan. Desa dipandang hanya menjadi pusat berkumpulnya orang-orang susah, melarat, dan tidak berpendidikan. Dampaknya, sifat inferior masyarakat desa mengemuka. Bahkan, pada era sekarang, ketika desa menjadi semiotonom, pemerintah desa masih cenderung menunggu program dari kabupaten ataupun pemerintah pusat.

Hal itulah yang coba diperangi Iman. Iman yakin desanya mampu membuat program kerja sendiri (menuju kesejahteraan) asalkan ada yang membimbing. Dari awalnya desa hanya memiliki lembaga kemasyarakatan normatif, seperti lembaga pemberdayaan masyarakat desa, PKK, dan karang taruna, pada tahun 2014-2016 terbangun lagi dua lembaga desa, yaitu lembaga kesenian desa dan kader pemberdayaan desa. Pembentukannya selalu berawal dari diskusi di Joglo Pandanlandung, yang bisa didatangi semua orang kapan saja.

”Demokrasi di desa tidak akan berjalan jika musyawarah desa hanya mengandalkan suara orang per orang. Makanya, butuh dibentuk lembaga perwakilan yang bisa mewakili suara-suara kepentingan banyak orang. Dengan model ini, musyawarah desa akan terlaksana dan bermanfaat untuk warga,” katanya. Iman juga menjabat Sekretaris Badan Kerja Sama Antar-Desa Kecamatan Wagir. Minimal musyawarah desa dilakukan 6-8 kali setahun.

Iman juga rutin memberikan pelatihan pemberdayaan desa ke desa-desa lain di luar desanya, bahkan hingga ke Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Blitar.

Anak muda

Dari diskusi tanpa sekat di Joglo Pandanlandung pula, anak-anak muda karang taruna Desa Pandanlandung mulai berani mengambil peran. Dua anak muda berusia 20-an tahun masuk dalam struktur pemerintahan desa, yaitu menjadi kepala urusan pembangunan serta operator desa. Meski masih belia, mereka sudah berani mengembalikan material bangunan yang datang tidak sesuai pesanan.

Anak-anak muda Desa Pandanlandung pun kini menjadi ujung tombak pemetaan desa, yang saat ini tengah dilakukan. Pemetaan desa dibuat untuk mengetahui detail kondisi desa tersebut, baik secara fisik maupun sosial ekonomi. Pemetaan desa menggunakan dana desa.

Dalam semua aktivitas itu, Iman tak pernah melupakan jalannya sebagai penulis.

Pada malam hingga dini hari, ia rutin menulis cerpen, terutama mengenai nilai-nilai kedesaan. Tahun ini, ia meluncurkan kumpulan cerpen Si Jujur Mati di Desa Ini. Ia juga membina komunitas menulis ibu-ibu pendidikan anak usia dini se-Kecamatan Wagir serta membentuk Komunitas Belajar Menulis Merajut Sastra.

Namun, jalan hidup Iman tak semulus bayangan orang. Terlalu banyak ”mengabdikan diri” kepada orang lain sempat membuat anak sulungnya kabur ke rumah neneknya karena merasa tidak diperhatikan. Si anak kembali setelah tahu bahwa aktivitas ayahnya untuk kepentingan banyak orang.

Iman juga kerap dituduh ingin maju menjadi petinggi desa. ”Kalau saya menjadi kepala desa, lalu bagaimana dengan desa-desa lain yang selama ini membutuhkan sumbangan pemikiran saya?” ujarnya.

Dia merasa lebih senang melihat anak-anak muda yang dia bimbing menjadi pemimpin di desanya dan membangun desa hingga menuju kesejahteraan. ”Membangun desa sama saja dengan membangun Indonesia,” kata pegiat teater itu.

Ibarat desa adalah sebuah pohon, Iman memilih memperkokoh akar-akar pohon itu agar sang akar mampu menopang pohon tetap tegak menjulang. Iman cukup menjadi pupuk dan air yang terus menyuburkan hingga pohon berbuah dan bermanfaat untuk banyak orang.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Agustus 2017, di halaman 14 dengan judul "Pendidik dari Desa".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas