Rubrik

sosok > Cegah TKI Ilegal dengan Mete

Sosok Halaman 16 Kompas

Cegah TKI Ilegal dengan Mete

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Selama 13 tahun, Gabriel Belawa Maran (53) alias Ebit pernah melakoni hidup sebagai buruh migran ilegal di Sabah, Malaysia. Ia kemudian beralih menjadi petani mete dan berhasil. Keberhasilannya menginspirasi warga sedesanya di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, untuk membudidayakan mete. Berkah dari mete ternyata bisa menahan warga untuk tidak menjadi buruh migran ilegal di luar negeri.

"

Saya ke Malaysia setelah lulus SMP, tahun 1982. Tahun 1995, saya kembali ke kampung dan tidak pernah lagi ke Malaysia. Kerja di sini saja, membesarkan anak di kampung," kata warga Desa Ile Padung, Kecamatan Lewolema, Flores Timur, itu, beberapa waktu lalu.

Seperti banyak orang di Pulau Flores, bekerja di Malaysia adalah pilihan mudah untuk mendapatkan penghasilan. Saat Ebit memutuskan merantau, memang nyaris tidak tersedia sumber penghasilan di sana. Hasil dari melaut tidak cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Iklim kering di Flores juga kurang mendukung pertanian. Apalagi, tidak tersedia saluran irigasi memadai.

"Dulu, saya kerja dua tahun di Sabah, pulang ke kampung satu minggu atau dua minggu, kembali lagi ke sana. Di Sabah kerja di kilang (tempat penggergajian) kayu, di dalam hutan," kata ayah empat anak itu.

Setelah menikah dengan Susana Beliti Koten (48) pada 1995, Ebit memutuskan untuk menetap di kampung kelahirannya, Dusun I Riang Pedang, Desa Ile Padung. Kala itu, sebagian lahan di Desa Ile Padung sudah ditanami jambu mete. Namun, hasilnya tidak menggembirakan. "Dulu, 1 kilogram kacang mete hanya dihargai Rp 1.000. Petani terima saja karena tidak mengerti," ujarnya.

Selain memanen mete, sebagian warga desa juga membuat moke, minuman keras lokal hasil fermentasi air buah lontar. Seperti mete, hasil penjualan moke juga tidak memberikan cukup pendapatan untuk warga desa.

Namun, Ebit bertekad untuk tidak kembali ke Malaysia dan memanfaatkan apa yang ada di kampungnya. Bersama sejumlah warga desanya, Ebit pernah mendatangi Kantor Bupati dan DPRD Flores Timur. Mereka memprotes harga mete yang terlalu rendah.

"Bapak-bapak di sana beri tahu, bukan salah pedagang beli murah. Petani salah karena mau saja hasil panennya dihargai murah. Petani jual sendiri-sendiri, tidak mau bergabung dan menentukan harga bersama-sama," kata Ebit mengulang pernyataan orang-orang di Kantor Bupati dan DPRD Flores Timur.

Pernyataan itu menyadarkan Ebit dan rekan-rekannya di desa. Karena itu, mereka memutuskan tidak lagi menjual mete sendiri-sendiri. Mereka mengumpulkan mete terlebih dahulu sebelum menjualnya kepada pedagang penampung di Larantuka, Flores Timur, atau pedagang yang datang ke desa.

Setelah beberapa tahun, harga perlahan naik dari Rp 1.000 per kilogram menjadi lebih dari Rp 10.000 per kilogram pada 2001. Namun, Ebit tetap tidak puas dan yakin ada cara lebih baik untuk meningkatkan harga jual hasil desanya. Ia juga mencari jalan agar penduduk mendapat penghasilan lebih tanpa harus meninggalkan desa.

Pada 2003, ia mengikuti pelatihan mengolah mete di Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Ilmu dari pelatihan itu semakin lengkap setelah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari salah satu negara Eropa mendampingi Ebit dan rekan-rekannya. LSM itu juga memberi bantuan alat pengering dan biaya sertifikasi. Dengan sertifikat itu, mete Ile Padung dinyatakan sebagai mete organik dan punya segmen pasar tersendiri.

Melalui Koperasi Puna Liput yang dipimpinnya, Ebit membeli mete. Awalnya hanya dari petani di Ile Padung, kemudian jangkauannya meluas ke desa-desa lain di sekitar Ile Padung.

Di Puna Liput, mete yang dibeli dari petani diolah kembali. Setelah dikeringkan dan dikupas beberapa kali, mete dikemas dalam bungkus kedap udara. Jika setiap 1 kilogram kacang mete basah dihargai rata-rata Rp 25.000, mete yang sudah dikemas itu dijual Rp 190.000 per kilogram.

Mengurangi TKI

Agus SusantoDi seluruh Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur tercatat total 77.361 hektar kebun jambu mete. Pada 2015, produktivitas total seluruh kebun mencapai 28.773 ton. Mete antara lain tumbuh di Kabupaten Flores Timur.

Dengan harga mete yang melonjak 2.500 persen dalam 22 tahun sejak Ebit kembali, semakin banyak warga Desa Ile Padung menjadi petani mete. Mereka mendapat penghasilan lebih baik dengan mengumpulkan kacang mete di kebun masing-masing. Pada Agustus hingga November, warga desa itu mengandalkan mete sebagai sumber penghasilan.

Ebit mengatakan, kini orang yang merantau ke Malaysia bisa dihitung dengan jari satu tangan. Padahal, hingga satu dekade lalu, hampir setiap orang yang masih kuat akan meninggalkan Desa Ile Padung dan menjadi pekerja migran di Malaysia.

Sekarang, warga Ile Padung tidak perlu harus jauh-jauh ke Malaysia untuk mendapat penghasilan. Mereka cukup bekerja kurang dari enam jam sehari untuk memungut kacang mete di kebun masing-masing.

Agar terus ada, pohon jambu mete perlu peremajaan. Selama beberapa tahun terakhir, Ebit dan sejumlah rekannya mengajak warga setempat mengubah cara penanaman. Dari rata-rata 3 meter, kini jarak antarpohon dibuat 12 meter. Ruang lebih lebar memungkinkan mete tumbuh lebih optimal dan hasilnya lebih baik.

Ebit tidak hanya berkutat di mete. Ia juga mengajak warga desanya menabung untuk masa depan. Karena tahu warga desa susah menyisihkan uang untuk menabung di bank, ia mengajak mereka menanam jati dan mahoni. Tentu saja ia sudah melakukan lebih dahulu. "Orang desa harus lihat ada (yang sudah) menghasilkan dulu," katanya.

Di lahan 7,5 hektar, Ebit menanam total 2.000 pohon jati dan 750 pohon mahoni. Kini, usia pohon itu rata-rata 10 tahun dan bisa dipanen dalam lima tahun ke depan. "Saya sudah punya investasi. Nanti anak bisa kerjakan," ujar Ebit sembari mengatakan, salah satu anaknya sedang belajar teknik mengolah kayu di STM di Larantuka.

Budidaya mete, dan sekarang jati serta mahoni, membuat hari-hari Ebit sibuk. Selain sebagai sumber penghasilan dan tabungan, tanaman-tanaman itu menjadi cara Ebit mencegah warga desanya ke Malaysia untuk jadi buruh migran ilegal.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Agustus 2017, di halaman 16 dengan judul "Cegah TKI Ilegal dengan Mete".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk mengirim komentar.

    Kembali ke Atas