Rubrik

sosok > Berjuang Melawan Rubella


Grace Melia

Berjuang Melawan Rubella

Grace Melia (28) pernah terpuruk akibat infeksi virus rubella. Anak pertamanya lahir dengan disabilitas dan sejumlah kelainan. Belakangan, Grace bangkit dan aktif berbicara soal bahaya rubella di depan publik. Ia menjadi salah seorang warga yang berada di barisan depan kampanye mencegah rubella.

Ketika mengandung anak pertama pada 2011, Grace tidak sadar terinfeksi virus rubella. Infeksi yang menyerang pada trimester pertama kehamilannya membuatnya pusing, demam, kelelahan, dan timbul bintik-bintik merah di tubuhnya. Grace memeriksakan diri ke dokter, tetapi ia tak didiagnosis terjangkit rubella.

Belakangan, Grace syok karena bayi yang ia lahirkan, Aubrey Naiym Kayacinta atau biasa dipanggil Ubii, mengalami disabilitas dan sejumlah masalah medis serius. ”Anak saya terlahir cacat,” cerita Grace di rumahnya di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, awal Agustus lalu.

Hingga saat itu, ia dan suaminya, Aditya Suryaputra (32), belum sadar bahwa putri mereka terkena sindrom bawaan rubella. Mereka hanya curiga dengan perkembangan Ubii yang berbeda dengan bayi lain. Ia diketahui menderita kelainan jantung sehingga mesti menjalani pemeriksaan jantung dengan alat ekokardiografi atau biasa disebut tes USG jantung. ”Hasil tes menunjukkan Ubii mengalami kebocoran jantung,” kata Grace.

Kelainan jantung bukan satu-satunya masalah medis yang diderita Ubii. Dokter menemukan masalah lain pada otak Ubii yang tak bisa mengirimkan sinyal dengan baik ke otot-otot tubuhnya sehingga otot anak itu kerap mengalami kekakuan. Kondisi itu mengakibatkan perkembangan motorik Ubii terhambat. Sampai saat ini, dalam usia lima tahun, Ubii belum bisa berdiri tanpa berpegangan dan belum bisa berjalan.

Ubii juga mengalami gangguan pendengaran parah. Setelah menjalani tes pendengaran atau tes Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) diketahui bahwa Ubii baru bisa mendengar suara dengan frekuensi 105 desibel (dB). Suara yang setara dengan suara mesin pesawat terbang dan suara mesin pemotong rumput.

Setelah Ubii berusia 5 bulan, ia baru tahu sang anak terkena sindrom bawaan rubella (congenital rubella syndrome). Ketika itu, dokter yang melakukan pemeriksaan USG otak bertanya apakah Grace terkena rubella saat hamil. ”Itu pertama kali aku dengar istilah rubella dalam hidupku,” ujar Grace.

Tes darah yang dilakukan beberapa hari kemudian mengonfirmasi bahwa Ubii benar terkena sindrom bawaan rubella. ”Waktu itu, perasaan saya hancur. Saya juga merasa bingung bagaimana menangani penyakit Ubii, dan takut bagaimana nanti masa depan dia,” kata Grace.

Bangkit

Grace mengatakan sempat terpuruk menyaksikan kondisi sang buah hati. Meski demikian, ia memutuskan segera bangkit. Alih-alih malu dengan kondisi Ubii dan menutupinya, Grace justru aktif menceritakan kondisi sang anak agar bisa menjadi pelajaran buat orang lain.

”Waktu saya sudah bisa move on, saya bilang ke diri sendiri bahwa pengalaman saya harus menjadi pelajaran bagi orang lain,” kata Grace.

Kalau hanya pemerintah dan tenaga kesehatan yang mengedukasi soal rubella, kata Grace, masyarakat belum tentu mau mendengar. ”Masyarakat butuh bukti riil tentang orang yang sudah terdampak rubella. Makanya aku harus tunjukan itu,” katanya.

Menurut Grace, pengalamannya menunjukkan, informasi mengenai rubella di Indonesia masih sangat minim dan banyak pihak yang belum menyadari bahaya penyakit itu.

”Dulu zaman saya kecil kayaknya juga belum ada vaksin rubella,” ujarnya.

Kondisi itulah yang mendorong dia aktif menyosialisasikan bahaya rubella. Mula-mula Grace menulis tentang kondisi Ubii di blog, lalu mendirikan komunitas Rumah Ramah Rubella pada 2013. Anggotanya para orangtua dengan anak yang sakit akibat rubella.

Sampai awal Agustus ini, grup Facebook Rumah Ramah Rubella memiliki anggota lebih dari 14.500 orang. Selain sebagai ajang berbagi para orangtua, komunitas itu juga aktif menyosialisasikan bahaya rubella dengan menggelar pertemuan atau seminar tentang rubella di Yogyakarta dan Jakarta.

Pada 2014, Grace menerbitkan buku Letters to Aubrey yang mengisahkan kondisi sang anak. Ia juga aktif menjadi pembicara di sejumlah seminar mengenai bahaya rubella dan terus menulis di blog gracemelia.com. Grace menggunakan media sosial untuk mengampanyekan bahaya rubella, terutama melalui akun Instagramnya yang kini memiliki sekitar 19.000 pengikut.

Ketika pemerintah mencanangkan program imunisasi measles (campak) dan rubella untuk anak usia 9 bulan sampai 15 tahun mulai Agustus ini, Grace diminta terlibat dalam sosialisasi. Ia tampil dalam iklan layanan masyarakat di televisi yang dibuat Kementerian Kesehatan.

Grace juga diundang untuk menjadi pembicara dalam acara Pencanangan Kampanye Imunisasi Measles-Rubella (MR) oleh Presiden Joko Widodo di Yogyakarta pada 1 Agustus lalu.

Menurut Grace, imunisasi MR tak hanya bertujuan melindungi anak yang menjadi sasaran imunisasi. Program itu juga untuk melindungi orang lain, terutama ibu hamil, di sekitar anak-anak tersebut agar tidak tertular rubella.

”Untuk anak perempuan, imunisasi itu juga penting agar saat mereka hamil kelak bisa lebih terlindungi. Jadi, para orangtua harus berpikir jangka panjang,” tutur perempuan yang mendapat sejumlah penghargaan karena kiprahnya menyosialisasikan bahaya rubella.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Agustus 2017, di halaman 16 dengan judul "Berjuang Melawan Rubella".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas