Rubrik

sosok > Demi Pedangdut yang Terbuang


Suwanan Nur Abidin

Demi Pedangdut yang Terbuang

Dangdut koplo seolah anak tiri kebudayaan. Padahal, keberadaannya, penggemarnya, dan dampak ekonominya nyata. Namun, nyaris tak ada penghargaan berarti bagi para pelakunya. Setelah mereka menua, mereka segera terlempar dari panggung dan mesti melakoni hidup tanpa penghasilan. Suwanan Nur Abidin (46) membantu para pedangdut senior itu merebut kembali panggung mereka yang hilang.

Semula Suwanan bermusik dangdut untuk kesenangan, sembari menjalani kesibukannya sebagai carik desa (sekretaris desa) Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dangdut memang telah mendarah daging buatnya. Ketika remaja ia sering menjadi operator alat musik keyboard di berbagai pergelaran dangdut.

Puluhan tahun menjalani hal itu, ia bergaul dekat dengan para musisi dan penyanyi musik dangdut yang malang melintang di acara-acara hajatan pada dekade 1990-an hingga 2000-an. Mereka sudah seperti saudara. Yunior belajar dari pengalaman senior, senior mendidik yunior.

Maka, ia sedih sekali ketika satu per satu teman-temannya itu menua. Ketika itulah mereka terlempar dari panggung digeser para pedangdut berusia 20-an yang sedang menggapai puncak popularitas.

"Siapa lagi yang mau ngundang pedangdut usia 40-an? Masih mending para musisi. Mereka masih bisa jadi pemain musik pengiring. Bagaimana dengan nasib penyanyi setelah tua?" cetus Suwanan, yang sehari-hari berstatus pegawai negeri sipil, ketika ditemui pertengahan Agustus lalu.

Ia menceritakan, sebagian penyanyi dangdut hidup merana setelah tua. Ada yang berusaha mengais rupiah dengan mengamen. Sisanya, tak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa pasrah.

Berangkat dari situasi itu, pada 2012, Suwanan mengumpulkan para musisi dan penyanyi senior. Selama dua tahun ia mencoba memutar otak untuk memberdayakan mereka. Sampai akhirnya ia memiliki ide membuat grup dangdut keliling dengan anggota para pedangdut tua. "Ini bukan dalam artian ngamen atau meminta-minta. Ini grup dangdut lengkap dalam kemasan praktis dan murah meriah," kata Suwanan yang mengecat rambutnya dengan warna merah.

Ia memanfaatkan kendaraan pikap yang dilengkapi genset, perangkat tata suara, tata lampu, dan alat-alat musik dangdut lengkap, bukan sekadar organ tunggal. "Dangdut koplo memang membutuhkan permainan pemain kendang yang asli, bukan hasil rekayasa digital. Malah kalau perlu dengan dua kendang koplo. Hasilnya jauh lebih asyik, tapi tetap dengan biaya panggung yang rendah," kata Suwanan.

Grup dangdut praktis

Dengan pikap itu, Suwanan dan grup berkeliling menjajakan dangdut koplo yang membuat orang bergairah. Ternyata, inovasi itu direspons pasar dangdut. Setiap hari, grup para pedangdut tua dengan 7-8 pemain musik ditambah penyanyi itu mendapat pesanan manggung. Tak jarang mereka bermain dua kali dalam sehari. Padahal, grup dangdut konvensional hanya menunggu musim hajatan untuk bisa manggung.

Suwanan dan kawan-kawan tidak hanya masuk ke pelosok kampung di Jombang dan Mojokerto, tapi juga hingga Surabaya dan Madura yang menjadi pasar utama dangdut di Jawa Timur. Mereka tampil di acara apa saja, mulai pesta pernikahan, tujuh belasan, hingga orang berduit yang tiba-tiba ingin menikmati pergelaran dangdut tanpa perlu bikin hajatan.

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas