Rubrik

sosok > Menebar Cinta Gamelan ke Penjuru Eropa


Peter Smith

Menebar Cinta Gamelan ke Penjuru Eropa

Peter Smith (56) jatuh cinta pada gamelan saat pandangan pertama. Baginya, perangkat musik tradisional Jawa itu sangat menawan. Berkilau laksana emas. Suaranya membelai dan melindungi jiwa. Ia pun mempelajarinya dan menularkan cintanya pada gamelan kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat di Inggris.

Peter Smith
Kompas/Erwin Edhi PrasetyaPeter Smith

”Saat itu saya semester I jurusan musik di Universitas York, Inggris. Saya diminta membantu membuka paket gamelan yang baru tiba di kampus. Kotak paket saya buka, saya lihat gamelannya kempling (kemilau) banget, seperti emas,” katanya mengenang peristiwa puluhan tahun yang lalu.

Keelokan fisik seperangkat gamelan seketika itu membuatnya terpesona dan langsung jatuh hati. Ia membandingkan dengan piano yang berwarna hitam polos tanpa ukir-ukiran atau biola yang meskipun cantik, tetap kalah menarik dibandingkan dengan ukir-ukiran kayu yang rumit pada perangkat gamelan.

”Langsung mripatku (mata saya) tertarik, opo meneh suantene (apalagi suaranya). Kangge wong londo, suantene gamelan koyok kroso dilindungi (Bagi orang bule, dengar suara gamelan itu serasa dilindungi),” kata Peter yang fasih berbahasa Jawa, Senin (21/8), di Solo, Jawa Tengah.

Bagi Peter, suara alat musik barat enak didengar. Namun, gamelan tidak sekadar enak di kuping, tetapi juga merasuk jauh ke dalam jiwa. Di Universitas York, Peter belajar memainkan gamelan di bawah asuhan Profesor Neil Sorrell. Tiga tahun belajar di Universitas York, ia ingin mengasah kemampuannya langsung ke sumbernya di Solo.

Berbekal program beasiswa Darmasiswa, Peter menggeluti gamelan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (kini Institut Seni Indonesia Surakarta) pada 1992-1995. Awalnya, ia berencana setahun belajar gamelan di Solo.

”Rumangsa kula setahun cukup, terus pengen balik mergo bakal kangen desaku ning Inggris. Tekan kene (Solo) krasan tenan, perpanjang meneh (Saya merasa setahun cukup terus ingin kembali karena kangen desa saya di Inggris. Sampai di sini betah sekali, perpanjang lagi),” ujarnya.

Peter merasakan Solo seperti kampung halamannya di Jericho, Oxford. Orang-orangnya ramah, apalagi ditambah kuliner Solo yang enak membuatnya betah. Tiga tahun akhirnya ia tinggal di ”Kota Bengawan”. Ia merajut pertemanan dengan dalang, perajin gamelan, dan komunitas-komunitas karawitan di Solo, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Karanganyar, dan Boyolali.

Mengajar gamelan

Setelah menyelesaikan studinya, Neil Sorrell lantas meminta dia bergabung mengajar gamelan di pusat kesenian terbesar di London, Southbank Centre. Ajakan itu disambutnya. Ia rajin mengenalkan dan mengajarkan gamelan kepada pelajar SD, SMP, hingga para mahasiswa di Inggris. Tidak terasa 20 tahun sudah ia aktif mengenalkan gamelan di Inggris.

Saat ini Peter merupakan pelatih ahli di Southbank Centre. Ia aktif memberikan pelatihan kepada masyarakat umum dalam program kursus gamelan tingkat dasar untuk pemula hingga tingkat lanjut. ”Banyak orang Inggris suka musik gamelan,” katanya.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, di Inggris saat ini tercatat ada 158 kelompok/komunitas gamelan. Peter juga melatih kelompok gamelan di Graz, Austria, dan Budapest, Hongaria. Menurut dia, kelompok-kelompok gamelan berkembang di banyak negara di Eropa.

Bersama rekan-rekannya, Peter mendirikan kelompok karawitan yang dinamai Siswa Sukra. Sebagai kelompok karawitan mandiri, Siswa Sukra memiliki hubungan dekat dengan Southbank Centre. Mereka berlatih rutin setiap malam Jumat di Southbank Centre.

Peter menceritakan, nama Siswa Sukra diusulkan salah seorang anggotanya, Richard (71). Siswa berarti murid, sedangkan Sukra berarti Jumat sehingga Siswa Sukra dapat diartikan kelompok siswa yang berkumpul dan belajar gamelan setiap malam Jumat. ”Sebenarnya grup kami bermain bersama sudah lama, tetapi baru diberi nama Siswa Sukra lima tahun lalu,” katanya.

Siswa Sukra beranggotakan masyarakat umum pencinta gamelan dengan berbagai latar belakang profesi. Mereka sering pentas bersama di Southbank Centre. Agustus ini, Peter memimpin grup gamelan Siswa Sukra mengunjungi beberapa kota di Indonesia. Mereka menggelar pementasan gamelan hingga mengiringi pergelaran wayang kulit yang difasilitasi Kemdikbud RI.

Pementasan pertama digelar di Museum Wayang, Jakarta, Minggu (6/8). Dari Jakarta, 25 personel Siswa Sukra pentas di Joglo Pete, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jateng. Peter dan kawankawannya juga tampil di Festival Kesenian Yogyakarta. Mereka lantas mengiringi pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Widodo Wilis di Trucuk, Kabupaten Klaten, dan menutup ”konser” mereka di Pendopo Ageng ISI Surakarta, Senin (21/8).

”Saya gembira bisa main di ISI Solo, pulang ke almamater tempat saya dulu belajar gamelan,” ujar Peter yang memiliki nama panggilan Jawa, Parto. Selama tinggal di Solo saat studi di ISI, Peter juga biasa disapa Pete (seperti orang Jawa menyebut petai). ”Di Inggris, Peter biasa disapa pit, namun di sini jadi pete,” ujar Peter yang tetap senang dengan sapaan itu.

Peter mengatakan, sudah lama Siswa Sukra ingin mengunjungi Indonesia. Dari 25 personel yang ikut, 20 personel sama sekali belum pernah ke Indonesia. Mereka ingin merasakan secara nyata suasana tempat lahirnya gamelan jawa.

Saben minggu ketemu main gamelan tetapi ora reti Indonesia koyok opo. Iso gending Jawi ning ora reti sega liwet kados pundi (Setiap minggu bertemu memainkan gamelan, tetapi tidak tahu Indonesia seperti apa. Bisa memainkan gending (lagu) jawa, tetapi tidak tahu nasi liwet seperti apa,” katanya.

Peter lantas menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di London. Harapan Siswa Sukra terkabulkan. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud memfasilitasi rangkaian perjalanan ”konser” mereka ke beberapa daerah. Tidak hanya unjuk kebolehan, Siswa Sukra juga mengasah kemampuan dengan berlatih di bawah arahan dosen ISI Surakarta dan pengrawit profesional di Solo.

Kegembiraan makin nyata karena setiap tampil Siswa Sukra selalu mendapat sambutan antusias warga yang menonton. ”Mereka suka ada orang-orang bule bisa main gamelan Jawa,” ujarnya.

Dari seperangkat gamelan Jawa, Peter mengaku paling suka memainkan gender. Selain lembut suaranya, gender bisa dimainkan mengalir mengikuti lantunan gending tanpa terpaku pada notasi. Ia pun juga bisa memainkan kendang, tetapi diakuinya memainkan kendang lebih sulit sehingga kurang piawai.

Bagi Peter, memainkan gamelan tidak saja bisa membawa kedamaian jiwa, tetapi juga mempererat rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Ini karena gamelan harus dimainkan secara bersama oleh sebuah tim, bukan perorangan.

Peter kini tak lagi khawatir gamelan bakal hilang tergerus kemajuan zaman. Sebab, sebagai warisan budaya dunia, masyarakat dunia akan turut melindungi gamelan. ”Ini hadiah dari Indonesia untuk seluruh dunia, untuk merukunkan manusia,” ujarnya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 September 2017, di halaman 16 dengan judul "Menebar Cinta Gamelan ke Penjuru Eropa".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas