Rubrik

sosok > Pahlawan Petani di Lahan Kering


Saprudin

Pahlawan Petani di Lahan Kering

Di tangan Saprudin (39), tanah kering kerontang bisa disulap menjadi area pertanian yang subur. Sepak terjang warga Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, itu memotivasi petani lain untuk ikut mendulang rupiah di lahan kering.

KOMPAS/KHAERUL ANWAR

"

Saya mau jadi petani di sini, tetapi saya harus menetap supaya fokus menggarap lahan," ujar Saprudin, awal Agustus lalu. Ia memang warga pendatang di Desa Ekas Buana. Sebelumnya, ia tinggal di Desa Pejaring, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur.

Perkenalan Saprudin dengan Desa Ekas Buana terjadi pada tahun 1999-2000 ketika ia meneliti budidaya rumput laut dan pemasarannya sebagai bahan skripsinya di Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Ia menemukan banyak lahan tidur yang tidak digarap maksimal. Akibatnya, lahan itu tidak memberi kesejahteraan yang cukup bagi warga. Dari situlah terbetik ide untuk memanfaatkan lahan tidur di Desa Ekas Buana.

Namun, niat itu tidak gampang ia wujudkan karena tanah di daerah selatan Lombok mengeras bagai batu saat musik kemarau. Sementara itu, pada musim hujan, tanah menjadi sangat liat. Akibatnya, 1.027 hektar lahan di kawasan itu tidak selalu bisa ditanami.

"Bulan Juni sampai Desember, desa ini kering kerontang, lahan disesaki semak belukar. Kehidupan baru tampak pada Januari, Februari, dan Maret. Saat permulaan musim hujan, petani baru bisa mulai menggarap lahan," tuturnya.

Kondisi itu memengaruhi pola bertani warga. Mereka, misalnya, menanam kacang hijau hanya ditabur di ladang garapan. Tanaman tidak dipelihara dan dibiarkan tumbuh sendiri. Sebagian kecil benih kacang hijau ditanam di pekarangan rumah. "Jika kacang hijau di halaman sudah berbuah, berarti kacang hijau di kebun berbuah pula. Saat panen kacang hijau itulah mereka menyambangi lahan kembali," ungkapnya.

Saprudin perlahan-lahan mengubah kebiasaan bertani seperti itu. Caranya dengan memberi contoh langsung. Ia pun terjun menjadi petani pada 2010. Empat tahun kemudian, ia membeli lahan tidur seluas 90 are atau 0,9 hektar seharga Rp 6 juta dari hasil menjual sepeda motor Suzuki Tornado. Di pinggir lahan itu, ia menanam 100 pohon jati emas sebagai pembatas dengan lahan untuk bercocok tanam di bagian tengahnya.

Awalnya, ia harus kerja keras membersihkan lahan dari semak belukar, lantas membuat lubang-lubang dengan kedalaman tertentu. Lubang-lubang itu dimasuki pupuk kandang dan serabut kelapa. Dengan begitu, lubang tersebut bisa berfungsi sebagai biopori dan melancarkan sirkulasi udara pada tanah yang berongga-rongga. Oksigen yang dibutuhkan tanaman mudah masuk dan tanah menjadi lebih lembab serta gembur.

Setelah dua bulan, lahan itu ditanami kacang hijau dengan pengelolaan sederhana. "Hasil panen belum bagus, tetapi ada juga yang bisa dijual," katanya.

Tidak puas bertanam kacang hijau, pada 2012, 2013, dan 2014, Saprudin menanami lahannya dengan pisang kepok sebanyak 700 batang. Hasilnya menggembirakan. Pohon pisang kepok itu menghasilkan tandan-tandan buah yang bagus dan bisa dijual Rp 60.000-Rp 70.000 per tandan. Agar langkahnya diikuti, ia membagikan sebagian hasil panen pisang kepada warga.

Selain menanam pisang, Saprudin juga mendorong petani menanam cabai lokal yang bisa tahan hidup selama dua tahun. Beberapa waktu lalu, petani bisa menjual cabai dengan harga Rp 100.000 per kilogram. "Ini menjadi pendapatan alternatif warga yang juga menjadi nelayan dan peternak," ujar Saprudin.

Memotivasi petani

Belakangan, Saprudin memperluas lahan pertaniannya dengan menyewa lahan seluas 6 hektar yang nyaris menjadi lahan tidur. Di lahan itu, ia menanam jagung. Pada 2015, ia bisa memanen 26 ton jagung yang dijual Rp 3.500 per kilogram.

Keberhasilan Saprudin mendulang rupiah di lahan kering membuat banyak petani mulai belajar cara bertani ala Saprudin. Salah seorang petani pengikutnya adalah pemilik lahan yang disewa Saprudin. "Dia memilih menanami lahannya dengan jagung tahun ini daripada menyewakannya," katanya.

Selain palawija, Saprudin juga mulai membudidayakan jeruk lumajang sebanyak 1.000 batang. Sebanyak 473 batang ditanam di lahannya, sisanya dibagikan kepada warga masyarakat. Jeruk itu kini sudah mulai "belajar" berbuah.

Saprudin bercita-cita menjadikan Desa Ekas Buana sebagai sentra produksi buah-buahan pada 2020. Karena itu, ia terus memotivasi warga untuk memanfaatkan halaman rumah yang kosong untuk ditanami beragam jenis buah-buahan, seperti mangga, kelengkeng, anggur, dan srikaya. Atas bantuan rekan-rekannya, ia mendapatkan benih buah-buahan itu untuk ditanam.

Untuk mencapai misi itu, Saprudin membentuk kelompok tani hortikultura lahan kering Ekas Garden yang beranggotakan 130 orang. "Saya beri sugesti kepada warga, apabila sebatang tanaman itu mati, harus diganti Rp 30.000. Kalau semua hidup, saya kasih benih tambahan lima batang," ujar Saprudin.

Kenyataannya, hampir semua tanaman buah itu tumbuh subur. "Sekarang saya yang kewalahan mencari bibit."

Pendidikan warga

Tidak hanya mengajarkan cara bertani yang baik, Saprudin juga berusaha meningkatkan taraf pendidikan warga. Ia prihatin karena banyak orang dewasa di Desa Ekas masih buta huruf. Ia mencoba memberantas buta huruf dengan mendorong warga belajar membaca.

Ia juga mendirikan 15 sarana belajar dan membaca atau berugak baca di tujuh dusun di desa itu. Kegiatan berugak baca itu diserahkan kepada warga yang dibantu para sukarelawan.

Ia merogoh kantong sendiri untuk membeli buku-buku. Sebagian buku berasal dari sumbangan para donatur. Umumnya buku-buku koleksi bersifat aplikatif, seperti teknik bertani dan mengolah penganan dari bahan lokal. Saprudin juga secara rutin berkeliling membawa sejumlah buku bacaan dengan mobil pribadinya yang sengaja dimodifikasi menjadi perpustakaan mini.

Kehadiran berugak baca itu mendorong banyak ibu rumah tangga untuk belajar mengolah hasil pertanian menjadi penganan yang punya nilai jual lebih tinggi.

Saprudin tidak hanya mampu mengubah cara bertani warga di lahan kritis. Lebih jauh, ia bisa mengangkat kesejahteraan dan pendidikan warga desa. Tidak heran jika penduduk Desa Ekas menjulukinya pahlawan lahan kering.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 September 2017, di halaman 12 dengan judul "Pahlawan Petani di Lahan Kering".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas