Rubrik

sosok > "Arsitek" Petani Kopi Dampit


Jajang Slamet Somantri

"Arsitek" Petani Kopi Dampit

Selama 34 tahun Jajang Slamet Somantri (53) mendampingi petani kopi di lereng selatan Gunung Semeru, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagai penyuluh lapangan. Kini, namanya tercantum dalam deretan penyusun kurikulum nasional dan modul pelatihan budidaya kopi berkelanjutan oleh Kementerian Pertanian.

Nama Jajang sudah tidak asing di telinga petani kopi di Kecamatan Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit (Amstirdam). Empat kecamatan di sisi selatan Kabupaten Malang ini merupakan sentra tanaman kopi, khususnya jenis robusta.

Kopi amstirdam atau biasa dikenal dengan sebutan kopi dampit sudah ada sejak zaman kolonial (1871) dan produknya telah merambah ke 45 negara. Lokasi kebun yang berada di ketinggian 400-700 meter di atas permukaan laut dan didukung kondisi tanah yang pas membuat kopi dampit punya cita rasa khas. Ada sedikit rasa manis dan cokelat. Hasil uji laboratorium kopi dampit punya nilai 81 atau masuk grade A.

Jajang berusaha terus mengangkat pamor kopi dampit di berbagai kesempatan. Ia sering bepergian dari satu daerah ke daerah lain untuk mengisi seminar dan berbagi pengetahuan. Pada 20 Juli lalu, misalnya, ia pergi ke Sleman, DIY, untuk menjadi salah satu pembicara pada ASEAN Learning Series and Policy Engagement for Agricultural Cooperatives (Alspeac) yang diikuti 10 negara.

"Di Alspeac, saya berbicara tentang standar kompetensi serta pelatihan budidaya berkelanjutan dan pascapanen kopi robusta," ujar Jajang, penyuluh di Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Selasa (1/8).

Jajang merasa bersyukur karena pada seminar tersebut ia mendapat kontrak sebagai salah satu pembicara Alspeac. Ia direkomendasikan oleh Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI). Setidaknya dua kali dalam setahun dirinya bakal berkeliling ke negara anggota mengikuti kegiatan berskala regional itu.

Jajang terlibat dalam pembuatan dua buku yang diterbitkan oleh Kementerian Pertanian bagi para tenaga penyuluh, petani, dan pengusaha perkebunan. Dua buku itu adalah Modul Pelatihan Budidaya Berkelanjutan dan Pascapanen Kopi Robusta dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Kopi Robusta.

"Saya dipilih sebagai penyusun lantaran saya punya konsep tentang perkopian," ujar Jajang yang dipercaya mengelola dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) beberapa perusahaan.

Lewat peran Jajang di dunia perkopian itu, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian mengajaknya ikut dalam pembuatan buku.

Target 15.000 petani

Lelaki kelahiran Garut, Jawa Barat, ini kini memiliki target bisa menyejahterakan 15.000 petani kopi di Malang dalam lima tahun. Target itu ia wujudkan dengan menggandeng beberapa perusahaan. Ada lima program yang dibiayai CSR perusahaan, antara lain, sekolah lapangan pertanian berkelanjutan, good manufacturing, pertanian yang didasari dengan riset, dan kluster agrobisnis yang berkelanjutan.

Jajang memiliki 10 asisten yang membantu melatih lima orang master trainer dari setiap kelompok tani. Targetnya ada 110 master trainer dalam setahun sehingga pada 2021 ada 540 orang master trainer yang akan melatih 15.000 petani kopi di Dampit dan sekitarnya.

"Latihannya melalui sekolah lapang. Dalam hal peningkatan produksi, target saya bisa menaikkan produktivitas kopi petani dari 750 kilogram per hektar pada 2015 menjadi 1.500 kilogram per hektar pada 2021. Dari sisi kualitas, meningkatkan mutu kopi dari lost grade minimal jadi mutu 4 grade," terang Jajang.

Menurut Jajang, mengangkat kesejahteraan petani kopi melalui program CSR perusahaan swasta bisa jadi solusi efektif dan cepat. Menyejahterakan petani, ujarnya, tak bisa hanya mengandalkan bantuan pemerintah.

Upaya Jajang mengintegrasi pengelolaan kebun kopi dengan konsep optimalisasi manajemen rantai ekosistem membuat petani mendapatkan hasil berlipat. Konsep yang digagas oleh Jajang adalah bagaimana membuat semua komponen ekosistem di kebun kopi bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Keberhasilannya menjalankan konsep itu membuat ia dinobatkan sebagai Penyuluh Teladan Nasional pada 2010

Dalam konsep itu petani diajari mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi. Mereka juga diajari cara memelihara ternak sebagai penyerta. Dari situ beberapa manfaat diperoleh sekaligus. Kulit kopi jadi pakan ternak setelah melalui proses fermentasi, sedangkan kotoran ternak jadi pupuk. Sementara naungan yang ada di lahan kopi bisa dikembangkan untuk budidaya lebah madu.

Dengan mengintegrasikan pola itu, petani bisa mendapat keuntungan 2-3 kali lipat. Dari awalnya Rp 30 juta menjadi Rp 60 juta-Rp 75 juta. "Kami sudah menganalisis hal ini dan sekarang menjadi model demplot untuk dikembangkan di kawasan Amstirdam," ucap Jajang, lulusan Jurusan Petugas Lapang Perkebunan Terpadu Universitas Padjadjaran, Bandung.

Ia mengatakan, awalnya kesulitan mengajak petani mengubah pola tanam yang telah dipraktikkan secara turun-temurun. Ia kerap ditolak oleh petani. Namun, melalui kerja keras disertai bukti-bukti, secara perlahan para petani mau mengikuti saran Jajang. Saat ini 40 persen dari 15.000 petani telah menjalankan pertanian kopi secara terintegrasi.

Salah satu kelompok tani yang dibina oleh Jajang tidak saja berhasil mengembangkan pertanian yang berkelanjutan, tetapi juga menyiapkan bentuk lain untuk mengoptimalkan manfaat pertanian kopi.

Kelompok itu adalah Tani Harapan di Desa Amadanom, Kecamatan Dampit. Kelompok ini tengah mempersiapkan lahan kopi sebagai ekowisata berbasis edukasi kebun kopi. Mereka menyuguhkan potensi kebun kopi dan kuliner berbahan dasar kopi kepada wisatawan.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 September 2017, di halaman 16 dengan judul ""Arsitek" Petani Kopi Dampit".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas