Rubrik

sosok > Petani yang Berbicaradi PBB


Suryono

Petani yang Berbicaradi PBB

di PBB

Jalan hidup memang tidak dapat diduga. Menurut pakar psikologi perilaku Alasdair AK White dalam bukunya "From Comfort Zone to Performance Management", mayoritas orang memang memilih bertahan hidup dalam kenyamanan. Netral tanpa kecemasan. Namun, tidak sedikit yang berani mengambil keputusan, mengubah jalan kehidupan ke depan.

Salah seorang yang berani mengambil keputusan besar mengubah hidup adalah Suryono (45), seorang petani dari Desa Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Riau.

Dia memutuskan keluar dari pekerjaan rutin sebagai penebang pohon di sebuah perusahaan pembersih lahan(land clearing) dan memilih menjadi petani hortikultura 12 tahun lalu. Keputusan tersebut membawa dia melangkah jauh melampaui angan-angannya.

Suryono adalah satu-satunya petani Indonesia yang berbicara dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Maroko pada November 2016. Sebelumnya, dia mendapat bintang Adikarya Pangan Nusantara 2015 dan menjadi Petani Terbaik Kabupaten Siak Bidang Hortikultura 2016. Baru-baru ini, bapak dari tiga anak ini menjadi bagian dari "Ikon 72 Prestasi Indonesia".

Ikon 72 adalah 72 sosok anak bangsa yang memiliki prestasi besar yang dapat membangkitkan rasa cinta dan menginspirasi untuk memaknai nilai-nilai ideologi Pancasila. Lembaga pemberi predikat itu adalah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila.

Pada 2000 saat baru memiliki satu putri, Suryono merantau ke Riau sebagai pekerja kasar di sebuah perusahaan land clearing. Setelah lima tahun, dia merasa bosan bekerja di bawah tekanan dan perintah orang lain yang tidak sesuai dengan nuraninya.

"Saya berhenti dan bertekad berusaha sendiri. Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak," kata Suryono dalam perbincangan dengan Kompas di Pekanbaru, akhir Agustus.

Suryono mulai menanam sayur-sayuran di halaman rumahnya. Modalnya hanya tekad meskipun belum memiliki pengalaman bertanam. Pada awal sebagai petani, selama beberapa hari dalam sebulan keluarganya tidak makan nasi karena hasil panen tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

"Kalau lagi tidak ada beras, kami harus makan ubi," kata Suryono.

Meski demikian, dia tetap semangat. Pantang menyerah. Peruntungannya mulai membaik tatkala Pemerintah Kabupaten Siak memberinya kesempatan ikut pelatihan pertanian di Jatisari, Jawa Barat, pada 2006.

"Orang di Jawa tidak mengenal kelapa sawit, tetapi petani sayurnya sejahtera. Saya makin antusias. Berkat ilmu dari pelatihan, saya mulai mendapat hasil," kata Suryono.

Setelah pendapatannya meningkat, pada 2008 dia menebang kebun kelapa sawitnya untuk memperluas ladang sayur. Penghasilannya naik, tetapi masih fluktuatif karena harga panen dimainkan tengkulak.

Suryono kemudian aktif dalam organisasi LSM Serikat Tani Riau yang kerap melakukan unjuk rasa terhadap tuduhan pendudukan lahan oleh Sinar Mas Forestry. Dia bahkan menjadi salah satu pentolan pendemo. Aksi demonstrasi itu berakhir dengan perdamaian. Sinar Mas memberikan lahan seluas 750 hektar dalam areal konsesinya untuk dijadikan lahan tanaman warga.

Setelah tidak berdemo, Suryono menjadi Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kecamatan Tualang pada 2010. Di situ dia menjalin persahabatan dengan Miswanto, salah seorang karyawan PT Arara Abadi (grup Sinar Mas) yang menjadi Sekretaris KTNA. Suryono kemudian mendapat pelatihan lagi di Balai Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat (BPPM) grup Sinar Mas.

Atas saran Miswanto yang memiliki istri pedagang pasar, Suryono mulai mengubah pola penjualan hasil panen. Dia tidak lagi menjual hasil panen kepada tengkulak, tetapi langsung di pasar.

Petani pedagang

Suryono berubah menjadi petani sekaligus pedagang. Setelah beberapa lama di pasar, dia meneliti kebutuhan pasar yang diminati konsumen. Dari prediksi pangsa pasar, dia dapat menyusun rencana panen yang tepat. Perlahan pendapatannya mulai stabil dan membaik.

Kini setiap bulan, Suryono mengaku mendapatkan penghasilan kotor sebesar Rp 30 juta. Dia memiliki pekerja tetap sebanyak enam orang dengan upah Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per orang.

Namun, menurut Kepala BPPM Sinar Mas Undang Nurzihad, Suryono selalu merendah apabila ditanya soal penghasilan. Tahun lalu, tanaman cabai Suryono menghasilkan Rp 300 juta dari modal awal Rp 45 juta.

Suryono tidak pelit berbagi ilmu. Siapa pun yang mau belajar, dia siap membantu. Setiap orang bahkan boleh magang di kebunnya. Belajar sembari bekerja. Apabila sudah mampu mandiri, Suryono meminta anak magang berusaha sendiri. Anak didik umumnya warga lokal, tetapi tidak sedikit yang datang dari jauh, seperti dari beberapa wilayah di Sumatera Utara.

Sejak bencana asap besar pada 2014, Suryono mengajak rekan-rekannya untuk tidak lagi membakar sisa-sisa panen. Dengan misi awal yang sama, pada 2015 grup Sinar Mas mengajaknya bergabung dalam organisasi Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Kerja kelompok itu sama seperti kerja awal Suryono, yaitu memberikan pelatihan kepada petani, tetapi ditambah ilmu beternak sapi, kambing, dan ikan. Grup Sinar Mas memberikan modal kerja tanpa bunga dan tanpa agunan secara bergulir kepada anggota kelompok yang diketuai Suryono.

Anggota yang bergabung dalam DMPA harus petani sungguhan, bukan petani asal-asalan. Anggota kelompok wajib peduli dengan kebakaran lahan. Di setiap pertemuan, di mana pun tempatnya, salah satu materi pembicaraan adalah mencegah kebakaran lahan.

Agar tidak membakar, petani diajarkan mengolah limbah panen menjadi kompos. Limbah jagung atau panen lainnya dicincang untuk pakan ternak. Kotoran ternak dijadikan pupuk tanaman.

"Anggota diberi pelatihan memadamkan api. Kalau tidak mampu, harus segera meminta bantuan petugas setempat. Sejak terbentuk DMPA, desa kami belum pernah terbakar lagi," kata Suryono.

Kegiatan kelompok Suryono mulai dilirik pemerhati internasional. Beberapa utusan negara dari Amerika, Eropa, India, dan Australia pernah datang ke kebunnya untuk membuktikan bahwa bertani yang baik tidak perlu membakar. Itulah mengapa kemudian dia dipilih menjadi pembicara di Konferensi PBB di Maroko.

Sekembalinya dari Maroko, kegiatan Suryono semakin banyak. Meski tingkat pendidikannya hanya sekolah dasar di desa, kini dia kerap memberikan materi kepada mahasiswa perguruan tinggi, seperti Universitas Andalas, Padang, dan Universitas Islam Riau. Tidak jarang dia membagi ilmu di luar desa, kecamatan, atau bahkan di luar Provinsi Riau.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 September 2017, di halaman 16 dengan judul "Petani yang Berbicaradi PBB".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas