Rubrik

sosok > Penyambung Suara Minoritas


Halimah Yacob

Penyambung Suara Minoritas

Halimah Yacob (63) menjadi perempuan presiden pertama di Singapura. Jabatan tertinggi yang pernah dicapai seseorang yang menyandang minoritas "ganda": sebagai perempuan yang berkiprah di dunia politik dan mewakili minoritas Melayu.

Perempuan bungsu dari lima bersaudara ini lahir dari keluarga sederhana di Queen Street, Singapura, pada tahun 1954. Kala itu kondisi keuangan keluarganya paspasan. Sang ayah, keturunan India Muslim yang bekerja sebagai anggota satpam, meninggal di saat Halimah berusia 8 tahun.

Ibunya kemudian mencari nafkah sebagai penjual nasi padang dengan gerobak dorong di dekat Shenton Way. Setiap hari Halimah kecil membantu ibunya berdagang sebelum masuk sekolah. Ia harus bangun setiap subuh pukul 05.00, ikut menyiapkan dagangan dan mencuci piring. Akibatnya, Halimah kerap tertidur di kelas dan alpa mengerjakan pekerjaan rumah. Bukan karena ia murid bandel, melainkan karena kelelahan.

Halimah kemudian memilih belajar di sekolah khusus bagi perempuan China. Dia menjadi satu dari sedikit warga Melayu yang belajar di situ. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi dengan bantuan beasiswa dan lulus sebagai sarjana hukum pada 1978.

Pada saat kuliah di Universitas Nasional Singapura itulah Halimah bertemu dengan calon suaminya, Mohamed Abdullah Alhabshee. Pasangan ini kemudian menikah pada 1980 dan dikaruniai lima anak yang kini berusia 26-35 tahun.

Begitu lulus, Halimah menerima tawaran bekerja di National Trades Union Congress (NTUC) yang membawanya dekat dengan dunia perburuhan dan kalangan akar rumput. Ia dikenal tangguh menyuarakan keluhan kalangan minoritas di Singapura dan aktif melakukan kunjungan pada keluarga-keluarga tak mampu dari berbagai latar belakang. Halimah dan sukarelawan lainnya setiap pekan berpartisipasi dalam pembagian makanan bagi mereka yang tak mampu di daerah pemilihannya.

Masuk politik

Halimah pernah menjadi Sekjen NTUC sebelum memasuki dunia politik dengan menjadi anggota Partai Aksi Rakyat (PAP). Ia terpilih pertama kali sebagai anggota parlemen di masa pemerintahan Perdana Menteri Goh Chok Tong. Ia memenangi pemilihan legislatif empat kali berturut-turut.

Sebagai satu-satunya anggota parlemen yang mengenakan tudung (kerudung), ketika diwawancarai pada 2013, Halimah mengatakan bahwa penampilan, ras, dan jender tidak pernah menjadi penghalang, baik dalam karier maupun kehidupannya.

"Saya rasa warga melihat bukan dari apa yang menutupi kepala saya. Yang terpenting adalah yang ada di sini (menunjuk hatinya)," kata Halimah kepada The Straits Times.

Halimah berkeinginan kuat mengajak perempuan mengambil posisi sebagai pemimpin. "Kita harus membuka jalan agar semakin banyak perempuan di parlemen," katanya. Halimah pada tahun 2011 diangkat sebagai Menteri Negara Perkembangan Komunitas, Generasi Muda, dan Olahraga.

Perempuan yang dikenal sebagai sosok rendah hati ini membuka sejarah baru pada 2013. Ia terpilih menjadi perempuan pertama ketua parlemen Singapura.

Mulus

Agustus lalu, Halimah mundur dari partainya untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Jalan Halimah "dimuluskan" oleh keputusan parlemen pada 2016 yang menetapkan perlunya pemilihan presiden dari komunitas ras tertentu yang selama 30 tahun tidak terwakili pada jabatan ini.

Presiden sebelumnya sejak dilaksanakan pemilihan langsung pada 1993 adalah Ong Teng Cheong (lewat pemilihan), SR Nathan, presiden keturunan India yang menjabat dua kali (tanpa pemilihan), dan Tony Tan (lewat pemilihan).

Namun, perdebatan di publik, khususnya di dunia maya, muncul saat pencalonan Halimah. Ia dianggap tidak "murni" Melayu karena ayahnya keturunan India, sementara pencalonan presiden 2017 hanya ditujukan bagi kandidat Melayu.

Apalagi, kultur Melayu menegaskan, anak-anak dari hasil pernikahan campur akan mengikuti ras ayahnya dan bukan ibunya. Bahkan, ketika Halimah menjadi ketua parlemen, komunitas India juga menganggap itu sebagai prestasi perempuan keturunan India.

Terkait isu ras ini, Halimah menegaskan, dirinya adalah Melayu, terlebih ia telah meraih sertifikat sebagai anggota komunitas Melayu untuk bertarung pada empat pemilu legislatif.

Perjuangan Halimah untuk meraih kursi kepresidenan juga semakin mulus karena ia menjadi satu-satunya kandidat (dari lima calon) yang dinyatakan memenuhi syarat oleh komite pemilihan presiden. Salah satu syarat yang wajib dipenuhi kandidat adalah pernah memegang jabatan publik atau memimpin perusahaan yang memiliki aset minimal 500 juta dollar Singapura.

Salah satu kandidat, Salleh Marican (67), misalnya, gagal memperoleh sertifikat karena ia "hanya" mengelola perusahaan sebesar 258 juta dollar Singapura. Dengan demikian, Halimah naik sebagai presiden tanpa perlu bertarung.

Ungkapan kekecewaan datang dari berbagai kalangan, termasuk komunitas Melayu, yang mengharapkan terjadi pemilihan terbuka dan demokratis. Apalagi, sebetulnya ada tiga kandidat Melayu yang mencalonkan diri. "Ini merendahkan kredibilitas komunitas Melayu karena seolah-olah kami tak mampu dan harus dibantu untuk jadi presiden. Padahal, ada sejumlah calon yang siap untuk bertarung," kata komedian Melayu Hirzi Zulkiflie kepada Reuters.

Sinyalemen senada juga datang dari Wakil Direktur Institute of Policy Studies Gillian Koh yang menganggap penerimaan warga Singapura terhadap keberagaman akan lebih signifikan dan "absah" jika ada sebuah pemilihan terbuka.

Namun, dengan atau tanpa pemilihan terbuka, bagi Halimah komitmennya tetap sama. Ia ingin sepenuhnya mengabdi pada rakyat Singapura.

Pada Rabu (13/9), ratusan pendukungnya menunggu di gedung nominasi dan bersorak-sorai ketika Halimah datang. Mereka mengenakan baju berwarna jingga, warna yang dipilih Halimah untuk berkampanye, yang disebutnya sebagai warna "persatuan". Di antara para pendukungnya terdapat perwakilan serikat pekerja, para ketua organisasi akar rumput, dan komunitas tempat Halimah mengabdi di daerah pemilihannya.

"Dia telah berbuat banyak bagi masyarakat miskin dan yang membutuhkan, saya hadir untuk memberikan dukungan," kata VincentTeo (71) seperti dikutip The Straits Times.

Teo membawa seikat bunga gerbera berwarna oranye. "Saya membawa bunga-bunga berwarna cerah seperti juga Nyonya Halimah yang berkilau."

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 September 2017, di halaman 16 dengan judul "Penyambung Suara Minoritas".

    KOMENTAR

    Ayo sampaikan pendapat Anda tentang artikel ini!
    Login untuk submit komentar.

    Kembali ke Atas